A.
Konsep
Konsep adalah unsur
penelitian yang terpenting dan merupakan definisi yang dipakai oleh para
peneliti untuk menggambarkan secara
abstrak suatu fenomena sosial atau fenomena alami. Misalnya, untuk
menggambarkan kapasitas reproduksi manusia dikenal konsep fertilitas (fertility) dan fekunditas (fecundity). Untuk menggambarkan
pergerakkan penduduk dikenal konsep migrasi dan mobilitas. Beberapa konsep yang
biasa dipakai dalam penelitian kependudukan dan penelitian sosial adalah :
nilai anak, perilaku kontrasepsi, angkatan kerja, pengangguran, sikap terhadap
kontrasepsi, morbilitas, mortalitas, stratifikasi sosial, interaksi sosial
perilaku memilih, alienasi (keterasingan) dan partisipasi.
Konsep adalah
generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat dipakai untuk
menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Misalnya, konsep perilaku menyimpang
(deviant behavior) dipakai oleh para
sosiolog untuk menggambarkan fenomena bunuh diri, kebiasaan minum alkohol dan
banyak fenomena lainnya. Konsep perilaku memilih dipakai untuk menerangkan
fenomena memilih pekerjaan, memilih tempat tinggal dan memilih jumlah anak.
Dalam kenyataannya,
konsep dapat mempunyai tingkat generalisasi yang berbeda. Semakin dekat suatu
konsep kepada realitas, semakin mudah konsep tersebut diukur. Banyak
konsep-konsep ilmu sosial sangat abstrak terutama yang merupakan unsur dari
teori yang sangat umum (grand theory).
Misalnya, konsep pilihan pekerjaan (occupational
preference) adalah lebih rendah tingkat generalisasinya dari konsep
perilaku memilih (choice behavior).
Berbeda dengan
konsep-konsep ilmu alam yang menggambarkan fenomena alami yang konkrit (karena
dapat diraba dengan panca indera), kebanyakan konsep-konsep dalam ilmu sosial
adalah untuk menggambarkan fenomena sosial yang biasanya bersifat abstrak.
Karena itu dalam penelitian sosial, konsep-konsep perlu didefinisikan dengan
jelas, sehingga penelitian tersebut dapat dipahami oleh masyarakat akademis
yang lebih luas.
B.
Proposisi
Proposisi adalah
pernyataan tentang sifat dari realita yang dapat diuji kebenarannya. Hipothesa adalah proposisi yang dirumuskan untuk pengujian empiris. Teori / Dalil
(hukum) adalah jenis proposisi yang mempunyai jangkauan (scope) yang lebih luas (generalisasi) dan telah mendapatkan banyak
dukungan empiris.
Dalam ilmu sosial,
proposisi biasanya adalah pernyataan tentang hubungan antara 2 (dua) konsep
atau lebih. Misalnya, proposisi “modernitas suami-istri adalah salah satu
faktor penentu perilaku kontraseptif mereka” lebih sering kita jumpai daripada
proposisi “cenderung pasangan usia subur di Indonesia menggunakan kontrasepsi
modern”. Benar keduanya adalah proposisi, karena keduanya adalah pernyataan
tentang realita yang kebenarannya dapat di uji. Perbedaannya, yang pertama
menghubungkan 2 (dua) faktor dan menganggap bahwa satu faktor adalah penyebab
dari faktor lainnya, sedangkan proposisi yang kedua hanya menunjukkan
distribusi suatu faktor.
Beberapa contoh proposisi yang sering dipakai
dalam penelitian keluarga berencana (KB) adalah sebagai berikut :
Teori
: Penerimaan kontrasepsi modern oleh suami istri dipengaruhi oleh tingkat
konsensus mereka tentang manfaat alat tersebut.
4 Proposisi :
1.
Penerimaan kontrasepsi modern oleh suami
istri di pedesaan Jawa dipengaruhi oleh tingkat konsensus mereka tentang
manfaat alat tersebut.
2.
Penerimaan kontrasepsi modern oleh suami
istri di pedesaan Jawa dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang sikap
kelompok referens
3.
Penerimaan kontrasepsi modern oleh suami
istri di pedesaan Jawa dipengaruhi oleh derajat kosmopolitan mereka.
4.
Penerimaan kontrasepsi modern oleh suami
istri di pedesaan Jawa dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang nilai ekonomi
anak (the value of children)
C.
Teori
Sarana pokok untuk
menyatakan hubungan sistematis antara fenomena sosial maupun alami yang hendak
diteliti adalah teori, yaitu rangkaian
yang logis dari satu proposisi atau lebih.
Teori merupakan
informasi ilmiah yang diperoleh dengan meningkatkan abstraksi
pengertian-pengertian maupun hubungan-hubungan pada proposisi. Proposisi 1,
misalnya menunjukkan bahwa penerimaan kontrasepsi modern oleh suami istri di
pedesaan Jawa dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang manfaat alat kontrasepsi
tersebut. Proposisi ini dapat ditingkatkan menjadi teori 1 dengan merubah
tingkat abstraksi proposisi tersebut menjadi : “ penerimaan suatu inovasi sosial dipengaruhi oleh sikap terhadap inovasi
tersebut”. Dalam contoh diatas “kontrasepsi modern” dijadikanlebih abstrak
dengan mengubah konsep tersebut menjadi “inovasi sosial” dan “persepsi tentang
nilai anak” dijadikan “persepsi tentang inovasi tersebut” atau kalau disajikan secara
lebih abstrak kita dapat merumuskan teoari 2 “perilaku adalah fungsi dari
sikap”.
Teori
yang lebih kompleks biasanya merupakan gabungan yang logis dari beberapa
proposisi. Teori keinginan berperilaku (theory
of behavior intentions) yang dirumuskan oleh Fishben (1967) pada dasarnya merupakan
gabungan yang logis dari proposisi 1 dan 2 seperti tampak pada Gambar 3.teori
ini yang telah diterapkan pada fenomena penerimaan kontrasepsi modern terdiri
dari 3 (tiga) variabel dan 2 (dua) hubungan. Variabel terikatnya adalah “
Keinginan menggunakan kontrasepsi modern” (Y) yang dipengaruhi oleh 2 (dua)
variabel bebas yaitu : “Persepsi tentang manfaat kontrasepsi modern” (X1) dan
“Persepsi tentang sikap kelompok referens” (X2). Hubungan antara Y dan X1
didasarkan atas proposisi 1 dan hubungan antara Y dan X2 didasarkan atas
proposisi 2.
D.
Variabel
Variabel yaitu konsep yang mempunyai variasi nilai.
Jadi konsep “Badan” bukan variabel, karena badan tidak mengandung pengertian
adanya nilai yang bervariasi. “Berat Badan” adalah variabel karena memiliki
nilai yang berbeda. Seks adalah variabel karena mempunyai nilai yaitu laki-laki
dan wanita. Umur, Pendidikan, Status perkawinan, jumlah anak, status pemilikan
tanah, peredaran uang semuanya adalah variabel.
Konsep-konsep yang
tidak mengandung pengertian nilai yang beragam biasanya dapat diubah menjadi
variabel dengan memusatkan pada aspek tertentu dari konsep tersebut. Jadi,
konsep perilaku kontrasepsi dapat diubah menjadu variabel dengan merubahnya
menjadi penggunaan kontrasepsi.
E. Hipothesa
Tujuan penelitian
adalah menelaah hubungan sistematis antara variabel-variabel. Hubungan ini
biasanya disajikan dalam bentuk hipothesis yang merupakan suatu unsur
penelitian yang amat penting. Hipothesa adalah kesimpulan sementara atau proposisi tentantif tentang hubungan antara
dua variabel atau lebih.
Hipothesis yang baik
harus memenuhi 2 kriteria, yaitu : (1). Hipothesa harus menggambarkan hubungan
antara variabel-variabel dan (2). Hipothesa harus memberikan petunjuk bagaimana
pengujian hubungan tersebut. Ini berarti, variabel-variabel yang dicantumkan
dalam hipothesa harus dapat diukur dan arah hubungan antara variabel-variabel
tersebut harus jelas.
Seringkali rumusan
hipothesa dimulai dengan suatu proposisi yang menunjukkan hubungan antara
variabel dan diikuti oleh pernyataan yang lebih spesifik tentang arah serta
kuatnya hubungan tersebut. Misalnya, untuk penelitian tentang penggunaan
kontrasepsi modern dapat dirumuskan sebagai berikut :
“ Tingkat penggunaan kontrasepsi modern dipengaruhi oleh persepsi suami istri tentang manfaat kontrasepsi
tersebut dan persepsi mereka tentang sikap kelompok referens terhadap hal yang
sama”
Hipothesa diatas
menunjukkan hubungan antara 2 (dua) variabel bebas (persepsi tentang manfaat
kontrasepsi modern dan persepsi tentang
sikap kelompok referens terhadap kontrasepsi modern) dan variabel terikat
(tingkat penggunaan kontrasepsi modern). Jenis hipothesa ini disebut hipothesa relasional. Selain hipothesa
relasional, terdapat hipothesa deskriptif. Hipothesa ini bertujuan
menggambarkan karakteristik suatu sampel menurut variabel tertentu. Salah satu
contoh hipothesa deskriptif adalah : “Proporsi
orang-orang desa berpendidikan tinggi yang beremigrasi lebih besar daripada
yang berpendidikan rendah”.
Semua hipothesa yang
diatas disebut dengan hipothesa kerja atau hipothesa
alternatif dan diberi simbil Ha. Untuk
menguji hipothesa alternatif tersebut, diperlukan pembanding dan disebut dengan
hipothesa nihil atau hipothesa nol dan
diberi simbol Ho (seringkali disebut juga dengan hipothesa statistik). Rumusan
hipothesa nol adalah kebalikan dari
hipothesa alternatif. Jadi kalau hipothesa alternatif berbunyi : Tingkat penggunaan kontrasepsi modern dipengaruhi oleh persepsi suami istri tentang manfaat kontrasepsi
tersebut dan persepsi mereka tentang sikap kelompok referens terhadap hal yang
sama” , maka hipothesa nol berbuyi : Tingkat
penggunaan kontrasepsi modern tidak
dipengaruhi oleh persepsi suami
istri tentang manfaat kontrasepsi tersebut dan persepsi mereka tentang sikap
kelompok referens terhadap hal yang sama”.
F. Definisi Operasional
Salah satu unsur yang
membantu komunikasi antar penelitian adalah definisi operasional, yaitu
merupakan petunjuk tentang bagaimana suatu variabel diukur. Dengan membaca
definisi operasional dalam suatu penelitian, seorang peneliti akan mengetahui
pengukuran suatu variabel, sehingga peneliti dapat mengetahui baik buruknya
pengukuran tersebut.
- Definisi Garis Kemiskinan (poverty line)
Dalam
penelitian ini dipakai ukuran garis kemiskinan yang dikembangkan oleh Sajogyo
(IPB). Yang tergolong miskin adalah mereka yang mempunyai tingkat pengeluaran
senilai kurang dari 320 kg beras per kapita per tahun (Di Pedesaan) dan kurang
dari 480 kg per kapita per tahun (Di Perkotaaan).
- Definisi Pasangan Usia Subur (PUS)
Adalah
pasangan berstatus kawin berusia antara 15 – 44 tahun
Sumber: Dr. Bambang Suhada, S.E, M.Si (Dosen Pengasuh)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar